PAGI BULAN…

PAGI BULAN…

Bulan, janganlah kau gelisah
Kegelisahan hanya akan meredupkan sinarmu
Kuatkan langkahmu
Tetaplah bersinar walau tertutup awan
Karena aku butuh sinarmu untuk menerangi hatiku…

Ahh… Bangun pagi sangat mengesalkan bagiku. Malass… Selepas sholat subuh ingin rasanya aku meneruskan tidurku yang tertunda.
Kadang dan bahkan selalu aku iri kepada anak-anak kos yang bisa bangun pukul tujuh pagi, yang tidak harus mandi jika pergi ke kampus, yang tidak diwajibkan menghabiskan sarapan, bila malas ya tidak perlu sarapan. Punya rumah sendiri, punya kamar sendiri, punya barang-barang sendiri, dan punya hak otonomi khusus sehingga tidak perlu berbagi dengan adikku yang jahilnya selangit, serta ketidakmungkinan Amerika untuk mengatur privacyku.
Ditambah lagi satu minggu ini aku bingung. Bukan karena BBM plus TDL yang naik atau badanku sedang terkena virus 3L (lemah, letih, lesu), bukan juga karena umurku yang sudah berkepala dua. Terlebih lagi jika masalah ujian semesteran yang tinggal menghitung hari. Tapi ini semua karena satu kiriman sms yang aku dapat beberapa hari yang lalu.
Cuma gara-gara sms yang gak nyambung ternyata bisa membuat aku kebingungan. Nah yang bener-bener bikin repot, siapa sih bulannya? Aku maksudnya?
“Ra… sudah enam seperempat nih…nanti telat,” kata ibu yang kontan membuyarkan lamunanku. “Ya,… bu, minta uang lagi dong, uang kemarin habis buat fotokopi diktat, gak ada buat ongkos bis nih.”
“Tenang Ra, ibu akan selalu siap memenuhi kebutuhan hidup anakku yang tercinta ini biar ia bisa mengobati ibunya yang sudah mulai sakit-sakitan, butuh berapa Ra?” kata ibu yang bermaksud membakar semangatku agar semangat pergi kuliah. “..maaf bu, sekarang aku sedang bimbang apakah aku mampu terus berjuang untuk memenuhi keinginanmu..” batinku.
Mengapa hampir setiap hari aku harus melakukan hal yang sama, berlari kesana kemari, berhimpit-himpitan, saling sikut, saling dorong, Cuma demi mendapatkan tempat duduk di bis. Duh.. pokoknya lebih penting dari tempat duduknya anggota dewan.
Ya, beberapa hari yang lalu dibis inilah semua bermula.

***
Dapat!!! Yah…hanya disanalah tempat yang tertinggal. Rupanya di sebelah bangku bus yang akan aku duduki, telah duduk seorang laki-laki yang tampak sedang sibuk dengan buku bacaannya. Demi menerapkan kaidah sopan santun yang kupelajari sejak SD sampai SLTA, menjaga kelakuan adalah yang terpenting. “Assalamualaikum, afwan disini sudah ada orang belum?” “Waalaikumsalam, belum ada.” Jawabnya sambil tersenyum.
Bis mulai melaju. Bunyi musik house yang diputar oleh bang supir memporakporandakan semua memori hapalanku yang telah tersusun dengan rapi. Si cowok masih asyik membaca bukunya. Buku apa yang dibacanya ya? Hmm… pasti buku tentang akidah atau paling juga tentang akhlak, tapi kok tebal sekali? Penasaran, aku lirik buku yang sedang dibacanya, waw, ternyata buku bacaannya Ilmu Penyakit Dalam.
“Ada apa ya? “ tanya cowok ini dengan raut muka penuh tanda tanya”
“Engg… Engg… maaf, kakak anak fk juga ya?” kataku memberanikan diri.
“Ya, kenapa?”
“Gak kak, itu liat dari bukunya.”
“Iya mau ujian mid pendalaman pdl tiga nih, adek anak fk juga ya? Oh..iya, sebelumnya, nama kakak yudi”
“Namaku Ira kak”
“Sekarang sudah semester berapa kak?”
“Sudah semester…”
“…”
Tidak terasa obrolan ini telah membawa kami sampai ketempat tujuan.
“Stop!!!” Bis berhenti di depan fakultas. Semua pembicaraan akhirnya terputus oleh perbedaan ruangan kuliah yang kami tuju.

***
“Hmm… ternyata dari pemuja rahasia ya ra? Siapa sih namanya?”
“Ada deh.” kataku sambil menarik hp yang sedang berada di tangan Rina.
Rina adalah temanku yang selalu setia menemani disaat tersulit didalam hidupku, diantaranya disaat ujian semesteran. Ya jika ada masalah, sedikit banyak Rina pasti membantu. Aku juga sering dapat banyak masukkan darinya walaupun kebanyakan masukannya tidak masuk akal.
“Macam betul nih orang, kemaren cuma nanya pendapat tentang masalah kuliah,’kak, ini ira yang satu bis dengan kakak kemaren, kami lagi ada masalah nih kak, buku yang dipinjam dari dosen kemaren rusak, gimana kak y? Dokternya bakal marah gak ya?’, Cuma gitu aja.”
“Ira, anggap biasa aja lagi, kamunya jangan geer duluan, lagipulakan gak tiap hari dapet sms kayak gitu.” Kata Rina dengan wajah meyakinkan.

Ass. Terima kasih k. Masalah kemarin udah selesai.
Dokternya mmang baik hati,
Gak nyalahin kami
Dia juga maafin kami

Beberapa hari kemudian, dipagi hari ketika aku baru menyelesaikan sholat subuh, tak lama setelah aku membuka jendela, menyambut matahari yang masih bersembunyi di selimut malam.
Pagi bulan,
walau saat ini sang surya menghilangkan sinarmu,
tapi aku akan tetap menanti indahmu
dari saat ini hingga senja nanti

“Rin, baca nih”
“Ce..ile…namamu bener bulan ya? Tampaknya ada sinyal jelas di seluruh propinsi Indonesia neeh.” Kata Rina menatapku sambil senyum penuh curiga. “No problem lah…ini kan gak buktiin apa-apa. Itung-itung buat penyemangat belajar menjelang semesteran.”
“Rin, gimana dong? Mesti dibales gak nih?”
Terserah kamu, kalo pengen dapet lebih banyak sms lagi dia, ya dibales aja terus. Kalo kamu gak mau ya gak usah dibales, tapi kasih tau smsnya kirimin ke no ku, aku mau kok jadi bulan, he..he…”

OK lah, no comment for this sms. Tapi walau sms ini tidak aku balas, hampir tiap malam namanya selalu tampil di hpku. Beberapa hari kemudian, disaat aku lagi sibuk-sibuknya membaca kitab pusaka peninggalan zaman majapahit yang setumpuk tetapi terbukti ampuh untuk ujian…

wah, sudh lama kk gak ketemu dgn Ira,
Jujur kk takut khilangan seseorang yang
Bisa dikagumi sifat dan pribadinya
BTW, it’s nice to see you today
Boleh ketemuan gak besok?
(^_^)

“Wah..,Astaga…. tidak …. tolong….eh salah…astaghfirullah,” Rina yang sedari tadi sibuk dengan kitab-kitab sakti abad pertengahan tiba-tiba sudah berada tepat disampingku.
“Pasti ra, tidak salah lagi, seratus persen, paten, garansi seumur hidup…gombal!!! he… Akhirnya, setelah lama sang serigala menyembunyikan taringnya…”
“Hus, jangan kelewatan dong, perasaan kakak ini beda dengan yang di kampus. Kalo berpapasan dengan kita di kampus paling cuma assalamualaikum, hallo, hai, pa kabar.”
“oooh.. jadi sekarang.. ato jangan-jangan…”kata rina lagi-lagi dengan senyuman penuh curiga.”
“Ah.. gak segawat itu lah rin, tapi yang jadi masalah, kakak ini kan bekas senior kita di rohis kampus. Aku gak nyangka. Bener Rin, kayaknya udah saatnya nih di beri lampu merah, eh jangan, lampu kuning dulu. Emangnya aku tempat penampungan sms gombal apa…”
Tampaknya semuanya kesalahpahaman ini harus diakhiri sebelum timbul kesalahpahaman yang baru, atau sebelum aku ketagihan dengan sms gombal lainnya.

Ass. K, Terima kasih untuk doanya selama ini
Dan kehidupan tidak sekedar dengan kata-kata
Semoga Allah membalas semua kebaikanmu.
wass

Tampaknya dia tahu betul arti dan maksud sms ini.
Sebetulnya aku ingin dipanggil bulan dan dapat sms ini tiap hari, tapi sepertinya.. belum saatnya deh. Yahhh… Selamat tinggal sms gombal.

By: Wahyoe ‘01
To: Bulan

0 Tanggapan ke “PAGI BULAN…”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan




dsc00898 klikharrywordpress2


My blog is worth $9,597.18.
How much is your blog worth?

untitled-1.jpg forum.gif

yang tersesat

Jumlah pengunjung yang telah masuk, ada yang berminat pasang iklan?

  • 221,246 pengunjung

spam yang berhasil ditangkap, ayo, siapa lagi?

berhitung hari yuk

Desember 2006
S S R K J S M
    Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

a