CERPEN: Bunga Buat Dokter Arman

BUNGA BUAT DOKTER ARMAN

Cerpen Oleh : Wahyudhy Utama

Sumpah itu dinyatakan sedari ia mendapatkan gelarnya. Bahwa ia akan menghormati setiap kehidupan manusia sejak rohku masuk ke dalam rahim ibuku!! Aku mulai terbentuk dari penyatuan antara sel jantan dan sel telur. Kemudian retaklah kulit telur dan jadilah aku adonan darah dalam rahim ibuku.

Kini aku mulai membusuk. Semula yang kurasa hanyalah amisnya darah dan kegelapan. Saat aku keluar dari rahimnya, yang aku inginkan hanya merasakan manisnya susu dan melihat gumpalan awan yang katanya berwarna putih. Semula aku tidak tahu mengapa aku berada disini. Ini adalah batas hidupku. Bukan suatu kebetulan jika aku berada dalam kantong plastik hitam.

Perasaan Yana terus berguncang di antara jelaga malam, alunan musik jazz di dalam kafe terus mengiringi perasaan Yana yang sedang gundah. Bencana yang ditakutkannya akhirnya benar-benar terjadi. Ia menatap kosong ke seluruh gemerlap ruangan. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, berharap asap rokok dapat sampai ke dalam jantung dan menusuk jiwanya untuk memperbaiki batinnya yang terus menjerit. Ia masih menunggu Rohman, pria yang bertanggung jawab untuk semua ini.
Malam semakin menjelaskan hadirnya. Yana belum beranjak dari kursinya. Ia memegang perutnya yang kini mulai membuncit. Dilihatnya Rohman masuk ke dalam kafe dengan wajah tanpa beban bersama perempuan yang dikenalnya sore tadi. Hati Yana meraung serak, pilu, pedih. Ingin rasanya Yana menghujamkan garpu yang berada ditangannya ke kepala Rohman. Rohman kemudian mendatangi Yana yang sendirian. Yana tidak mampu berkata apa-apa, ia langsung menangis dihadapan Rohman. Ibarat sebuah mata air yang tidak pernah kehabisan airnya, Yana menangis tersedu-sedu menagih janji. Rohman menjawab tangisan Yana dengan perkataan “ bukan adek yang salah, bukan pula kakak, kita semua tidak menginginkan semua ini terjadi. Gugurkan saja, ini untuk kebaikan kita berdua, saya tahu tempat untuk itu”.
Subuh akhirnya menggantikan gelap malam. Rohman dan Yana meninggalkan ruangan itu. Sejenak Yana ingin mengurungkan niatnya, tetapi Rohman terus meyakinkan dirinya untuk menggugurkan anak di dalam kandungannya. Mereka saling berdiam diri di dalam mobil yang melaju cepat ke suatu tempat. Mereka terlihat begitu gundah dan larut dalam kebingungan mereka sendiri.
***
Beberapa jam yang kemudian, Rohman menghentikan kendaraannya di sebuah rumah. Rumah itu tidak terlalu besar. Yana dan Rohman menuju tempat itu. Didepannya tertulis, Praktik dokter. Dokter yang didatangi mereka adalah seorang dokter yang sehari-harinya bekerja sebagai pengabdi kemanusiaan di sebuah Rumah Sakit swasta di kota mereka. Dokter Arman namanya.
“Dek, inilah tempatnya, engkau harus menjalani cara ini demi kebaikan kita berdua, jika kita tidak melakukannya sekarang maka masa depan kita akan berubah sama sekali”. Rohman menatap tajam ke arah Yana yang masih memegang perutnya dan sekali-kali mengusap-usapnya.
“Maksud kakak?” Yana mengernyitkan keningnya
“Kamu harus segera menggugurkannya, dengan begini kita masih bisa terus kuliah, aku tidak mau orang tuaku tahu aku menghamili anak gadis orang” kata Rohman sedikit keras.”
“Bukankah kakak masih bisa menikahiku?” kata Yana membela diri.
“Jika aku menikahimu, mau kukasih makan apa kamu dan anakmu? Mau dikasi kotoran?” Kata Rohman tegas.
Yana menarik nafas panjang, membuka pintu mobil dan menuju ke rumah dokter. Tak terbayang di benak Yana bahwa ia akan pergi ke tempat yang seharusnya tidak ia datangi untuk tujuan ini. Rasa cemas dan rasa takut semakin berkecamuk hebat di dada Yana. Hari ini benar-benar akan menjadi hari yang panjang baginya.
***
Ruangan itu hanya sebuah petak kecil dari keseluruhan bagian rumah yang besar. Tampak terang benderang dengan sisi dinding-dinding yang terlihat bersih walaupun masih terlihat bekas darah yang menempel di kisi-kisinya. Walaupun ruangan itu sudah diberikan pengharum tetapi bau anyir darah tetap tercium dan menebarkan aroma yang membuat Yana dan Rohman ingin cepat keluar dari ruangan itu. Di hadapannya ada sebuah lemari kaca yang berisikan bermacam-macam benda yang berbentuk aneh. Ada yang begitu mirip dengan gunting, jarum, gergaji, tang, alat pemotong bunga dan banyak lagi. Tetapi ada yang tampak tidak asing di mata Yana. Jarum suntik, sebuah alat yang biasa ia pakai untuk mendapatkan surganya bersama Rohman.
Rohman mendapatkan lokasi ini dari teman dugemnya. Rohman hanyalah seorang mahasiswa yang untuk membiayai makan dirinya sendiri pun tidak bisa. Tidak ada pilihan lain baginya. Mobil yang dipakainya adalah milik temannya dan biaya untuk apa yang ingin dilakukannya kali inipun ia dapatkan dengan mengambil uang tabungannya yang sudah ditanamnya sejak enam tahun yang lalu. Ada sedikit sesal dihatinya ketika mengetahui kehamilan Yana. Ia sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi. Namun, memutar waktu kembali itu hanya mimpi belaka.
***
Dokter Arman menyambut pasangan itu dengan suka cita. Ia seolah datang sebagai penghenti badai dan pembawa pencerahan bagi awan hitam yang menaungi kedua orang ini. Kesepakatan pun dibuat, tetapi dokter Arman menegaskan, “saya hanya membantu nona. Nona yang menginginkannya, tetapi harus nona ketahui, tindakan ini mempunyai resiko, dan resiko yang terburuk adalah nona bisa kehilangan nyawa nona sendiri”. Yana menganggukan kepalanya, tetap bulat untuk menggugurkan kandungannya, begitupun dengan Rohman yang terus memberikan dorongan kepada Yana untuk tidak mengubah pilihannya. Rohman kemudian duduk diluar ruangan praktik. Ia berdiri di salah satu sisi bangunan itu, mondar-mandir dan gelisah. Ia menatap ke langit-langit dan berharap tidak terjadi apa-apa terhadap Yana maupun dirinya. “Ah gawat, aku harus segera menyelesaikan masalah ini, jika tidak perjodohanku dengan Pinasti akan dibatalkan”. Ia terus mengingat pesan ayahnya yang akan menjodohkan dirinya dengan anak saudagar kaya teman ayahnya.
Sementara dokter Arman masih sibuk dengan pekerjaan yang baru dimulainya. Mengotak-atik diantara sela kedua paha perempuan-perempuan. Suatu pekerjaan yang sudah lazim dikerjakannya. Walaupun dalam sumpahnya sudah terucap bahwa dokter harus menghormati kehidupan, bahkan janin yang berada di dalam sekalipun, tetapi menurut dirinya, ia melakukannya untuk menolong seseorang yang mendapatkan kecelakaan, karena hal itu tidak disengaja sama sekali.
Lima belas menit sudah berlalu, Yana masih tergolek lunglai diatas meja operasi dokter Arman. Obat bius itu bekerja cukup ampuh, Yana tidak merasakan apa-apa kecuali melihat bayangan wajah anaknya semakin redup dan menghilang ditelan bayang. Yana bisa mendengar dentingan alat dan mencium bau anyir darah dirinya yang semakin menyengat. Tiga puluh menit akhirnya berlalu. Dokter mengusap keringat di keningnya dengan lengan bajunya yang masih bersih, sementara tangannya telah bersimbah darah.
“Anakku, aku sama sekali tidak menginginkan dirimu, tetapi bukan berarti aku membencimu. Tuhan, aku sama sekali belum siap menerima anak ini. Anak ini adalah anak haram, yang lahir hanya atas dasar birahi, bukan cinta yang dibalut pernikahan” batin Yana.
Angin diluar bertiup kencang, kemudian turunlah rintik-rintik hujan yang mulai menyirami tempat itu. Rohman menghitung tiap gerimis yang jatuh. Tiba-tiba turunlah hujan yang menggila, seperti langit sedang menangis sejadi-jadinya. Pintu ruang praktikpun terbuka. Rohman masih tampak terkejut, ia berlari menyerbu ke arah Yana yang pucat pasi dan masih tergolek lunglai diatas meja aborsi.
“Yana, Dek. Apakah kau tidak apa-apa?” teriak Rohman. Yana hanya menganggukkan kepalanya. Rohman kini terbawa oleh arus kebahagiaan. Betapa tidak, dokter Arman telah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Ia mengucapkan ribuan kata terima kasih kepada dokter Arman dan membayarkan sejumlah uang yang telah dijanjikan sebelumnya atas kelahiran anaknya. Dokter Arman gantian mengucapkan kata selamat sambil menyerahkan segumpal daging merah yang hampir serupa dengan bentuk manusia dalam kantong plastik hitam.
Hari mulai gelap ketika Yana dan Rohman meninggalkan tempat itu dengan membawa sejuta harapan baru di dalam benak mereka masing-masing dan membawa serta diriku dalam kantong plastik hitam itu.
***
Cahaya matahari menembus kaca mobil dan perlahan menghangatkan sendi tulang Yana. Pagi ini tidak seperti biasanya. Yana tidak merasa rasa berat di dalam perutnya lagi. Bebannya kini benar-benar hilang. Ia dapat melihat jalan masa depannya terang kembali. Yana menatap birunya mega, dan bunga yang berwarna-warni di jalanan. Sekarang ia bertekad untuk tidak lagi berada di hamparan tanah yang pernah membuat ia menderita yang hanya akan mengingatkannya kepada tangisnya. Tetapi gulir air mata yang jatuh ke pipinya menjelaskan bahwa ia sebenarnya tidak sanggup menghilangkan dosanya dari seorang ibu yang telah membunuh anaknya sendiri.

***

Saat ini yang kujumpa hanya sedikit bayang kehidupan yang telah benar-benar memudar. Apa yang berada di dalam hati Rohman sehingga tega membenamkan aku didalam bencana ini. Aku juga berhak untuk merasakan dunia seperti Rohman. Dokter Arman, seorang penjaga kehidupan justru telah menarik hidupku. Mataku masih terpejam, telingaku masih basah dan mulutku masih tertutup, tetapi aku sudah merasakan betapa sulitnya bertahan hidup di dunia, bahkan dalam kandungan ibu sekalipun.

Mohammad Hoesin, 20 Mei 2007

2 Tanggapan ke “CERPEN: Bunga Buat Dokter Arman”


  1. 1 btyop Juni 22, 2007 pukul 1:21 am

    wah, ceritanya bagus, cara penulisannya bagus, thumbs up ^_^
    looking forward to read your next story ^_^


    “wah… makasih buat thumbs upnya”

    *kapan-kapan kasih two thumbs up ya, he..he..*

  2. 2 Takodok! Juni 22, 2007 pukul 10:27 am

    Jadi inget sama yang ditulis mas Farid di blognya

    Ditunggu karya selanjutnya ya kak :)


Tinggalkan Balasan




dsc00898 klikharrywordpress2


My blog is worth $9,597.18.
How much is your blog worth?

untitled-1.jpg forum.gif

yang tersesat

Jumlah pengunjung yang telah masuk, ada yang berminat pasang iklan?

  • 221,259 pengunjung

spam yang berhasil ditangkap, ayo, siapa lagi?

berhitung hari yuk

Juni 2007
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

a