Cerpen: Lima Keping Uang

Oleh: Wahyudhy Utama
Sumber: Sriwijaya Post, edisi Minggu, 12 Agustus 2007

bentuk pdfnya

Siang itu begitu panas dan membakar. Langit begitu bersih tanpa ada segumpal awanpun yang berani mengotorinya. Matahari begitu berkuasa, membakar tiap-tiap apa yang disinarinya. Debu-debu dari jalanan benar-benar merajalela, melekat pada semua benda yang ada di dekatnya, pada pintu, jendela dan apapun yang berada di dekatnya. Belum ada titik hujan yang jatuh selama beberapa bulan ini. Begitupun kota tua ini, terasa seperti tak bertuan, sunyi, senyap.
Saat ini mungkin mereka sedang asyik berada di dalam rumah. Meminum segelas air segar, bercanda bersama anggota keluarga, melantunkan dendang melayu sambil membaringkan kepala mereka di atas bantal yang empuk. Sebenarnya siang itu tidak semua berada di dalam rumah, beberapa dari mereka sedang sibuk berada luar rumah. Beberapa dari mereka bahkan berani melawan keganasan sang surya. Bukan karena nekat, tetapi karena keterpaksaan untuk melanjutkan hidup ditengah ketidakpastian masa depan mereka. Tubuh mereka yang hitam telah menjadi tameng untuk menghentikan panas yang dipancarkan mentari. Satu demi satu karung mereka angkut dari dalam kapal menuju ke toko manisan yang berjarak kurang lebih lima puluh meter dari kapal. Di toko itu seorang laki-laki tua sudah menunggu di depan toko tersebut. Ia duduk sambil memandangi setiap karung yang masuk ke dalam tokonya tanpa ada satupun yang sempat hilang dari pandangannya. Haji Ali namanya, mandor sekaligus pemilik toko manisan itu, seorang pria keturunan Arab yang bahkan nenek moyangnya telah lebih dahulu menjejak Palembang jauh sebelum kedatangan Belanda. Tangan kirinya terus mengayunkan kipas untuk mengusir rasa panas yang memutar-mutar di dalam kepalanya, walaupun dari ujung kepalanya keringat sebesar jagung masih terus mengucur. Sementara tangan kanannya memegang pena, mencatat setiap karung yang masuk kedalam tokonya.
Matanya masih terus memperhatikan para kuli angkut pasar itu, terutama seorang pemuda yang baru beberapa hari bekerja untuk dirinya. Pemuda itu tak henti-hentinya hilir mudik mengangkut karung beras seakan-akan mau mengangkat semua karung beras hari ini, sangat berbeda dengan kuli-kuli tua pemalas itu.
“Nang, sudah cukupla dulu kerja ente hari ni, bagi pulo rejeki buat yang laen. Ini upah kau hari ini. Baleklah, besok kesini lagi,” kata Haji Ali sambil menyerahkan lima keping uang ke dalam genggamannya.
“Terimo kasih nian Ji, jadi aku boleh begawe disini terus?”
“Ya, tapi besok datang lebih pagi, soalnya banyak barang yang nak dituruni besok”, kata Haji Ali sambil menyeruput kopi dingin diatas mejanya.
Pemuda itupun berlalu dari hadapan Haji Ali sambil menggenggam beberapa keping uang dari hasil jerih payahnya. Ia berlari menembus panasnya perangkap matahari. Tidak terlihat muka letih diwajahnya walau dari peluh wajahnya terlihat jelas bahwa ia bekerja sangat keras hari ini. Ia melewati jalan tengkuruk itu lagi. Kemudian ia berhenti sejenak di atas jalan itu, jalan yang dulunya adalah sebuah sungai tempat ia dan teman-temannya belajar berenang. “Mengapa mereka melakukan ini, emangnya ini tanah nenek moyangnya” katanya di dalam hati. Saat itu Anang masih kecil, ketika Palembang masih dibawah Burgemeester Le Cocq d’Armandville yang menimbun sungai tengkuruk kesayangannya. Seorang Burgemeester memang boleh membangun apapun asalkan bermanfaat bagi masyarakat, sekurang-kurangnya untuk masyarakat Eropa yang tinggal di Palembang.
Suasana panas dan membakar itu mulai terganggu oleh gemuruh yang berasal dari Timur. Beberapa menit kemudian sinar matahari tidak kuasa menembus tebalnya awan yang datang bergulung-gulung disertai suara gemuruh yang saling bersahutan. Sekarang suasana tidak panas lagi. Mata Anang terperangkap oleh awan kelam itu. “Alhamdulillah, semoga engkau mendatangkan hujan yang lebat ya Allah, biar Palembang tidak kena wabah lagi.” Kala itu kolera pernah menjadi penyakit yang paling mematikan. Mewabahnya penyakit ini mengakibatkan kematian massal penduduk Palembang.
Dia membuka kepalan tangannya, lima keping uang pertamanya benar-benar membuatnya merasa menjadi orang dewasa. Ia kembali berlari melintasi jalanan sepi itu, ingin secepatnya sampai di muka rumahnya dan menunjukkan hasil kerjanya hari ini kepada emak dan abah. “Sekarang ayuk Ida dak boleh manggil aku budak kecik lagi.” Katanya sambil tersenyum.
Kota kini gelap gulita. Guntur semakin menggelegar. Rintik hujan mulai mengguyur Palembang dan seisinya. Ditengah guyuran hujan yang lebat itu, ia mendengar suara gemuruh dari arah belakangnya, tetapi itu bukan suara halilintar. Ia memalingkan mukanya kearah belakang dan dilihatnya ada berpuluh-puluh orang yang sedang berlari ke arahnya. Tampak ada ketakutan diwajah mereka.
Tiba-tiba salah satu dari mereka menepuk pundaknya, “Nang, abah kau ditangkap Belanda, cepat lari sebelum mereka nangkap kau jugo.”
Anang yang kebingungan ikut hanya bisa lari bersama mereka.
“Apakah abah berbuat salah?” Tanya anang dalam hati.
Beberapa hari ini abah tidak pernah pulang kerumah. Beberapa minggu sebelumnya bahkan banyak pemuda berkumpul dirumah. Abah memang seorang yang disegani oleh penduduk, bahkan oleh Nessel van Lissa sekalipun. Tetapi sekali ini mungkin abah sudah benar-benar membuat walikota kesal dengan kekeraskepalaan abah yang menolak pembangunan menara air. Hal ini disebabkan karena ketidaksetujuan abah dan warga Palembang dengan besarnya uang yang harus mereka keluarkan yang konon kabarnya bakal menghabiskan tiga ton emas. Sumber dananya tentu saja dari keringat rakyat Palembang. Pemerintah Belanda beralasan bahwa pembangunan menara air ini adalah untuk kepentingan air warga Palembang juga.
Anang mulai kehabisan nafas, sekarang ia baru merasakan kelelahan yang menyusupi tiap sendi-sendi tubuhnya, tetapi ia tidak boleh berhenti berlari dan tangannya masih memegang lima keping sen uangnya.
Guyuran hujan berhenti dan tinggal rintik kecil semula. Anang sudah tiba di depan rumahnya. Tanpa disangka di depan pintu rumahnya ada beberapa orang yang juga basah kuyup. Mereka berbicara dengan Emak. Tiba-tiba emak menangis dan tamu itupun turun dari rumah dan meninggalkan emak yang masih menangis. Anang menghalangi tamu itu meninggalkan mereka
“Ada apa kak. Mengapa emak menangis?”
Mereka tidak menjawab pertanyaan Anang.
“Ado apo kak. Mano abah aku?”
Mereka saling menatap satu sama lain. Akhirnya seorang diantara mereka berkata,
“Kami dengan Abah kau tadi pergi ke kantor commissaris, abah kau ditangkap Belanda olehnyo dianggap penghasut. Abah ditembak oleh Belanda.”
Anang terdiam, para pemuda itupun berlalu dari hadapannya. Tanpa sempat melangkahkan kaki ke dalam rumah. Ia berbalik arah, berlari ke arah kantor walikota. Hujan kini telah berhenti. Tetapi air masih menggenangi jalanan. Kaki Anang berlumuran tanah liat basah. Ia hentikan langkahnya saat dilihatnya tanah liat dihadapannya telah berubah warna menjadi merah. Air merah dari arah kantor walikota mengakibatkan tanah yang dilewatinya ikut menjadi merah. Dilihatnya satu tubuh yang tergeletak di jalan. “Merah ini adalah darah yang berasal dari orang itu!” Anang segera memburu tubuh itu. Dadanya langsung berdegup kencang. Ia berharap tubuh itu bukan tubuh abahnya. Tetapi nyatanya ia mendapati abahnya telah terbujur kaku dengan dua lubang pada dada yang terus mengeluarkan darah.

kantor ledeng

Tubuh Anang masih basah, badannya masih lelah, tangannya masih mengepal lima uang pertamanya, tetapi isi pikiran di dalam otaknya telah berbeda, bukan lagi ingin mendapatkan uang sebanyak mungkin, tetapi ingin menghabisi nyawa Belanda sebanyak mungkin. Dia membuka kepalan tangannya dan dihamburkannya lima keping uangnya di hadapan Abahnya. “Abah, sebanyak inilah jumlah nyawa Belanda yang akan kuhabisi hari ini, besok aku akan menghabisi lebih banyak lagi!”
“Jangan Nang, kasian emak samo Yuk Idamu, kalu kau mati siapa yang mengurus mereka?” hati Anang berkata.
Anang tidak menjawab, bajunya masih basah, kelelahan tubuh membawa amarah yang telah lama tersimpan akhirnya meledak bersama lima keping uang yang didapatnya hari ini. Bukan uang yang digenggamnya kini, tapi sebilah roodos yang siap menghabisi Belanda.
- – -
• Pulo : juga
• Baleklah : pulanglah
• Begawe : bekerja
• Nak : akan
• Kalu: bila
• Budak kecik :anak kecil
• Burgemeester, setingkat walikota. Salah satu bentuk pemerintahan Palembang pada masa kolonial Belanda.
• Le Cocq d’Armandville, walikota kedua Palembang pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
• Commissaris, lengkapnya Regeering Commissaris tempat pusat pemerintahan kala itu sebelum pindah ke menara air, sekarang beralih fungsi menjadi Museum Mahmud Badaruddin II.
• Nessel van Lissa, walikota ketiga Palembang pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
• Roodos, jenis senjata dengan gagang yang terbuat dari tanduk dan diberi ukiran.

0 Tanggapan ke “Cerpen: Lima Keping Uang”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan




dsc00898 klikharrywordpress2


My blog is worth $9,597.18.
How much is your blog worth?

untitled-1.jpg forum.gif

yang tersesat

Jumlah pengunjung yang telah masuk, ada yang berminat pasang iklan?

  • 223,223 pengunjung

spam yang berhasil ditangkap, ayo, siapa lagi?

berhitung hari yuk

Agustus 2007
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

a