CERPEN: SAYAP RAPUH SANG KUPU MALAM

BERITA PAGI
12 NOPEMBER 2007

art-butterfly.jpg
SAYAP RAPUH SANG KUPU MALAM

Cerpen Oleh : Wahyudhy Utama

Malam itu cuaca dingin kembali menutupi kota. Bulan dan kerlip bintang telah hilang ditutup awan yang datang bergerombol dengan membawa berjuta ton air di dalamnya. Gemuruh halilintar bersahut-sahutan, memberitahukan bahwa sang awan sudah tidak sanggup lagi menahan air yang dibawanya. Sementara kota itu, masih terasa begitu panas walau telah diselimuti malam. Satu per satu tetesan hujan turun menyerbu bumi. Tetesan pertama yang menyentuh bumi langsung menguap begitu saja, menandakan betapa panasnya kota itu disirami terik matahari sedari pagi tadi.

Jatuhan tetes air membasahi kepala Dini. Segera ia memindahkan badannya ke bawah atap pertokoan yang sudah tutup itu. Ia menatap ke atas atap toko, mengawasi jika ada tetesan air yang mengejarnya dari atap toko yang bocor. Sekarang ia merasa kedinginan, betapa tidak, ia hanya memakai busana apa adanya, hanya menutupi dari setengah pahanya hingga atas payudaranya. Ia kemudian memperhatikan jalanan yang sedang diguyur oleh hujan malam itu. Satu malam lagi Dini harus pulang ke rumah dengan tangan hampa. Ia perhatikan jam di tangannya. “Ah, sudah pukul sepuluh malam” ujarnya. Tapi tak lama kemudian, di tengah hujan sederas itu, sebuah mobil berhenti di depan toko tempatnya berdiri. Seorang pria di dalam mobil itu melambaikan tangan ke arahnya. Dini tersenyum, segera ia perbaiki dandanannya kemudian berlari di tengah hujan dan masuk ke dalam kendaraan itu.

***

Dini berpakaian sama seperti yang lainnya, memakai baju putih bersih dengan lambang OSIS pada saku bajunya. Ia memakai rok abu-abu panjang hingga sebatas lutut. Di dalam tas sekolahnya hanya ada buku dan alat-alat tulis, bukan bedak maupun alat make-up. Dini, siapa yang tidak mengenalnya di sekolah, seorang siswi terbaik yang pernah dimiliki sekolah tersebut, yang pintar, yang pernah menjadi juara kelas dan pernah menjadi siswi teladan mewakili sekolahnya. Tetapi itu dulu, ketika Dini masih mempunyai orang tua dan memiliki semua yang diinginkannya. Sekarang Dini telah kehilangan semua itu dan hanya bersisa adik kecilnya seorang.
Dini duduk sendiri di halaman sekolah, memperhatikan teman-temannya yang bisa bercanda dan tertawa lepas.
“Lagi ngapain din?”, tanya Irma.
“Lagi bingung.” Jawabnya singkat
“Lo bingung apaan nih? Cerita dong ke kita.”
“Gak ah, males.”
“Jangan gitu dong, gue kan temen lo, siapa tau aja gue bisa bantu, minimal ngurangi isi pikiran di otak lo.” Jawab Irma enteng.
“Hmm..” Dini menundukkan pandangannya dan menatap wajah Irma, tajam.
“Lo tau gak, apa rasanya kalo hidup lo tuh udah gak berarti lagi?”
Irma memicingkan matanya menangkis tusukan tatapan mata Dini, “Ya…gak tau dong, koit aja belum” jawab Irma santai
“Entahlah, mungkin gue yang terlalu terbawa perasaan, tapi rasanya…” Dini terdiam, sebuah air mata bergulir dari ujung matanya.
Irma mengerti bahwa temannya itu butuh sebuah pelukan. Ya, Irma mengerti bahwa Dini memang sedang menghadapi masa-masa yang sangat sulit. Orang tua yang telah tiada serta hilangnya kakak yang selama ini menjadi penopang hidup dirinya.

***

Beberapa bulan yang lalu yang ia tahu bahwa ia berada di suatu klub bersama seorang laki-laki yang bernama Yudi, menikmati suasana malam yang terang benderang dan mencicipi setiap tenggak alkohol dari dalam gelas mereka. Ketika itu Dini butuh pelarian, pelarian dari gelisah dan ketakutannya selama ini. Entah apa yang menjadi penyebabnya hingga ia sudah terbaring di kamar tidur hotel pagi itu. Seluruh pakaian sudah terlepas dan tubuhnya terasa begitu sakit. Tidak butuh waktu lama begitu ia menyadari bahwa sesuatu yang ia jaga selama ini telah hilang malam tadi.
“Mengapa!!” tangis Dini
“Loh, itu kan lo juga yang mau” jawab Yudi
“Gue nggak mau, sedikit pun!!” teriaknya
“Baiklah, walau lo gak mau, tapi gue gak akan pernah bisa mengembalikannya. Lagi pula, lo kan bisa menolakku semalam. Tapi buktinya, lo berikan semuanya!” balas Yudi keras.
Dini hanya menangis dan terus menangis.
“Ini, ambil semua uang ini, untuk mu!! Kalo nanti kamu mengandung, gugurkan kandungannya dengan uang ini!” kata Yudi sambil melemparkan setumpuk uang dan meninggalkan Dini yang masih menangis.
Dini memang membutuhkan uang itu. Sudah beberapa bulan ini bapak kos terus menagih uang kontrakan rumah mereka. Begitu juga dengan biaya untuk makan dirinya dan Husin adiknya. Ketika itu Dini selalu berharap, “Mungkin aja hari ini kak Yati udah masukin uangnya.” Segera ia menuju ATM terdekat, tetapi tabungannya masih menunjukkan nilai yang sama, sisa saldo seribu rupiah.

***

Sekarang Dini sudah dapat membayar sendiri uang kontrakan mereka. Ia juga melunasi semua hutangnya dengan Bu Irah, pemilik warung di depan rumahnya. Selain itu ia juga sudah dapat membelikan alat-alat tulis bagi adiknya. Kini Dini tak lagi menunggu kakaknya.
Malam itu sama seperti malam biasanya, tidak panas dan tidak pula hujan. Temaram sinar rembulan menembus kisi-kisi jendela ruang tamu rumah mereka. Malam itu sebuah mobil sedan mewah parkir di depan rumah. Seseorang wanita cantik keluar dari dalamnya. Ia memakai shirt ketat dan celana hitam ketat sebatas lutut, di pergelangan tangan melingkar beberapa gelang yang berwarna keemasan, begitu juga dengan jari-jarinya, dipenuhi oleh benda-benda yang berkilauan. Dari perhiasan yang dipakainya, jelas ia adalah seorang kaya.
“Assalamualaikum…” sapa wanita itu.
“Waalaikum salam, tunggu ya” jawab Husin dari dalam rumah.
Pintu pun dibuka. Sejenak Husin memandangi wajah itu. Wajah itu membalas tatapan Husin dengan senyuman. Beberapa saat kemudian, senyum tersungging dari wajah Husin, ia langsung menyerbu tubuh itu, merangkulnya erat-erat.
“Kakak, Ucen rindu kakak! Kak Dini juga rindu kakak!”
Sementara wanita itu, terus memeluk Husin. Ia tidak berkata sedikitpun. Ia hanya tersenyum, tetapi di dalam senyumannya ia menangis. Ia teringat kembali saat dirinya memutuskan meninggalkan Dini dan Husin yang ketika itu masih sangat kecil.

Sementara di tempat berbeda, Dini sedang baru saja melepas lelahnya setelah melayani seorang laki-laki tua berumur. Dini, tidak lagi bersedih atas apa yang telah terjadi, tidak lagi menyesali semua perbuatan yang telah dilakukannya, dan ia tidak lagi takut akan dosa atas perbuatannya. Setumpuk lembaran uang seratus ribuan sudah berada di tangannya, dan begitu besar pengorbanan yang harus dilakukan demi uang-uang itu.
“Aku bukan lah apa-apa lagi, semua hanya untuk menyambung hidup dan menghidupi adikku.” Begitu katanya dalam hati setelah menerima uang itu. Ia memakai kembali pakaiannya. Pekerjaan malam ini sudah selesai.
Dini tiba di depan rumahnya. Betapa terkejut dirinya ketika melihat orang asing sedang duduk santai di dalam rumahnya.
“Siapa itu?” tanyanya dalam hati
Ia mendengar suara perempuan itu tertawa begitu lepasnya setelah bersenda gurau dengan adiknya. Betapa terkejut Dini saat melihat wanita itu. Segala amarahnya mengumpul di dalam dada, begitu besar dan bergelombang. Meletup-letup dan siap memuntahkannya kepada wanita tersebut. Tetapi wanita itu membalas dengan tatapan matanya. Segera ia memburu adik kecilnya, ingin merangkul cintanya dan meminta maaf atas semua kesalahannya. Dini hanya diam, tangannya tidak bergerak sedikitpun membalas pelukan kakaknya.
“Maafkan kakak Din.”
Dini hanya diam.
Yati terus memeluk erat tubuh adiknya dan sekali lagi ia berkata, “ Maafkan kakak.”
Dini akhirnya luluh juga. Ia juga tidak sanggup menyembunyikan isi hatinya. Menutupi kerinduan akan kakaknya yang hilang selama ini. Perlahan, rasa amarah itu padam, terhapus oleh badai kerinduan yang selama ini disimpannya. Ia rangkul tubuh kakaknya. Membalas pelukannya. Malam itu mereka habiskan hanya untuk melepas rindu.

***

Pagi itu mereka mereguk kembali kebahagiaan yang hilang selama ini. Berkumpul bersama, bercerita tentang masa kecil dan segala kenakalan mereka. Tak henti-hentinya Yati mengelus kepala Husin yang semakin tinggi sejak ditinggalkan oleh dirinya dan melihat Dini yang semakin bertambah dewasa dan mampu menghidupi Husin dan dirinya sendiri tanpa bantuan Yati.
Mobil sedan hitam itu kini berhenti di depan halaman rumah mereka, menunggu Yati.
“Kakak pergi dulu ya. Ada urusan penting.” Kata Yati kepada Dini dan Husin.
“Nanti kakak pulang ke sini lagi kan kak?” tanya Husin.
“Ya. Pasti. Ini kan rumah kakak juga. Din, kakak pergi dulu ya. Kamu sekolah yang bener, pokoknya mulai sekarang, kamu gak perlu bantuin Om Darman jualan nasi di pasar lagi.”
“Ya kak.” Jawab Dini perlahan.
“Maafkan aku kak, aku harus bohong padamu.” Jawab Dini di dalam hati.
Yati masuk ke dalam mobilnya. Ia lambaikan tangan ke arah Dini dan Husin. Rumah itu akhirnya hilang dari pandangan Yati.
Yati termangu. Ia masih tidak percaya apa yang telah terjadi padanya. Ia berbohong kepada adiknya bahwa selama ini ia pergi ke Malaysia, walaupun sebenarnya ia tidak pernah pergi kemana-mana, hanya hidup di kota tetangga dengan melacurkan dirinya sendiri. Dirinya pun pernah dipenjara selama beberapa bulan setelah pelanggannya meninggal di pelukannya karena serangan jantung sebelum akhirnya ia terbukti tidak bersalah. Ketika itu ia tidak dapat lagi bekerja dan mengirimkan uang untuk adik-adiknya. Akhirnya, setelah lebih dua tahun mengabdi, ia menjadi orang kepercayaan mami untuk mencari bibit baru usaha mereka.
“Yat, bagaimana, lo udah ketemu dengan bibit yang lo cari?” tanya laki-laki itu sambil mengendarari mobil sedannya.
“Nantilah Ton, gue kan baru balik nemuin keluarga gue, lagian di sini bukan tempat yang cocok buat itu.”
“Eh, lo tau gak, gue ditelpon pelanggan kita semalem. Katanya ada yang masih fresh loh. Kata dia namanya Dini, anak itu suka mangkal di depan ruko Jalan Jendral Sudirman kalo malam.”
“Dini?” Yati sedikit bingung mendengar nama itu. Tapi ia tetap yakin bahwa Dini itu bukanlah Dini adiknya.
“Ya udah, ntar malem kita cek kesana. Sekarang lo mau bawa gue kemana Ton?”
“Biasa. Pak Irul, dia sudah booking lo hari ini dari siang ampe malem!”
“Gampang lah. Trus bayarannya?”
“Sama kayak kemaren. Udah ditransfer ke rekening lo. Ntar lo cek sendiri deh.”

Mobil itu meluncur kencang melewati bayangan gedung-gedung bertingkat. Ya, kota itu kini telah bangun dari lelap malamnya. Cahaya matahari pagi begitu empuk dan hangat menyinari setiap sisi-sisi kota. Udara hari itu terasa bersih dan nyaman. Awan-awan berarak tipis di seluruh langit. Walau pohon-pohon itu harus bersaing dengan gedung bertingkat demi sinar matahari pagi, tetapi burung masih berkicau di atasnya dan daun-daunnya masih berwarna hijau.. Begitu juga dengan Dini, ia kini sudah dapat tersenyum gembira di dalam kelasnya. Ingin kembali mengejar apa yang pernah ia lepaskan dahulu dan mendapatkannya kembali. Walaupun semua telah terjadi tetapi Dini kini optimis, ia masih punya cita-cita yang harus dikejarnya demi kakak dan adiknya.

2 Tanggapan ke “CERPEN: SAYAP RAPUH SANG KUPU MALAM”



Tinggalkan Balasan




dsc00898 klikharrywordpress2


My blog is worth $9,597.18.
How much is your blog worth?

untitled-1.jpg forum.gif

yang tersesat

Jumlah pengunjung yang telah masuk, ada yang berminat pasang iklan?

  • 210,140 pengunjung

spam yang berhasil ditangkap, ayo, siapa lagi?

berhitung hari yuk

Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

a